RSS

REAK

06 Nov

Reak adalah sebuah kesenian yang memadukan reog, angklung, kendang pencak, dan topeng. Konon, kesenian ini lahir sekitar abad ke-12 di Sumedang. Ketika itu, Prabu Kiansantang (putra Prabu Siliwangi) menginginkan agar penduduk pulau Jawa, khususnya Jawa Barat menganut agama Islam. Dalam agama Islam, ada kewajiban bahwa seorang anak laki-laki harus dikhitan. Untuk mengurangi rasa takut anak-anak akan khitanan, maka sesepuh Sumedang menciptakan suatu kesenian yang bertujuan untuk mengurangi rasa takut. Kata reak ini berasal dari bahasa sunda “eak-eakan” yang berarti kehiruk-pikukan dan kesorak-soraian yang dimainkan minimal 20 orang.

Peralatan yang digunakan dalam kesenian tradisional reak ini adalah dogdog yang terbuat dari kayu, dan kulit, angklung yang terbuat dari bambu, kendang yang terbuat dari kayu dan kulit, goong yang terbuat dari perunggu, terompet yang terbuat dari kayu dan tempurung, topeng yang terbuat dari karton (kertas) dan kulit, dan kecrek yang terbuat dari besi.

Pementasan diawali dengan penabuhan dogdog. Bersamaan dengan tetabuhan ini para pemain berjalan mengelilingi arena/ termasuk para penggendang, pengangklung, dan pengegong.  Kesenian ini tidak hanya menunjukkan kelincahan para pemainnya dalam menggerakkan tubuh dan memainkan peralatan, tetapi juga menunjukkan gerakan-gerakan sedemikian rupa/ sehingga menarik penonton. Pendek kata, semuanya berusaha agar para penonton bersorak-sorai, dan tertawa terpingkal-pingkal. Lagu-lagu yang dilantunkan dalam sebuah pementasan reak pada umumnya lagu-lagu yang berjenis pupuh atau wawacan. Kesenian ini juga tidak terlepas dari unsur magis yang membuat para pemain atau warga yang menonton kehilangan kesadaran.

Banyak nilai yang bisa diambil dari pementasan reak antara lain kerjasama, kekompakan, ketertiban, ketekunan, kreativitas, kesadaran.Nilai kerjasama terlihat dari adanya kebersamaan dalam melestarikan warisan budaya para pendahulunya. Nilai kekompakan dan ketertiban tercermin dalam suatu pementasan yang dapat berjalan secara lancar.  Nilai kerja keras dan ketekunan tercermin dari penguasaan dan teknik pemukulan perangkat reak. Nilai kreativitas tercermin dari adanya usaha untuk menampilkan gerak yang bisa membuat penonton terpingkal-pingkal dan nilai kesadaran tercermin dari pengakuan bahwa manusia tidak lepas dari kekhilafan sebagaimana yang disamping ketua reak dalam sambutan pembukaan dan penutupan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 6, 2012 in yes I love Sunda

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: